Monday, February 17, 2020

Perjalanan untuk Lepas dari PCO (Part 6) - Ke Psikolog


Perjalanan untuk lepas dari PCO ini memang terbilang tidak mudah. Namun, saya menyadari bahwa ini masih bisa untuk diteruskan. Jika berkaca dari teman-teman lain yang punya kondisi serupa dengan saya, apa yang saya lakukan ini belum ada apa-apanya. Ada yang sudah melakukan ini dan itu dalam durasi lama dan belum menerima hasil positifnya. Mereka tetap berusaha dan semangat untuk menjalani setiap prosesnya. Maka, saya pun demikian adanya.

Menyadari bahwa saya termasuk orang yang insecure, gampang kepikiran omongan orang, dan suka membayangkan macam-macam, itu membuat semua proses ini semakin tidak mudah. Saya menyadari bahwa butuh orang lain yang bisa membantu saya mengatasi masalah psikis. Ya, psikis juga perlu untuk dibenahi, bukan hanya fisik semata. Saya berdiskusi dengan koko perihal ini. Sebab, ketika saya bertemu dengan ahlinya, maka siap untuk membuka kisah saya yang berhubungan juga dengan rumah tangga kami.

Bersyukur punya suami yang sangat support dan terbuka. Dia sadar bahwa bukan semata-mata cukup didengarkan olehnya, namun saya butuh orang lain yang turun berperan dalam menghadapi semua ini. Akhirnya saya memutuskan untuk konsultasi di Brawijaya Clinic Kemang. Saya mendaftar untuk konsultasi dengan Psikolog Tiga Generasi yang praktek di hari Sabtu. Saya tidak spesifik memilih harus psikolog tertentu. Karena saya bekerja dan hanya bisa hari Sabtu, maka saya terima siapapun psikolognya yang praktek hari itu.

Kenapa saya memilih Psikolog Tiga Generasi?

Tiga Generasi merupakan pusat informasi dan konsultasi mengenai perkembangan diri, anak, dan juga keluarga di Indonesia yang berdiri sejak tahun 2015 (https://tigagenerasi.id/).
Ketika saya cek website dan media sosialnya (Instagram), saya menemukan bahwa tempat ini bisa menjadi wadah untuk saya mencari pegangan. Tiga Generasi memiliki layanan konsultasi psikologi. Sebetulnya ada layanan lain yang dimiliki olehnya. Semua bisa cek di website https://tigagenerasi.id/ atau IG: @TigaGenerasi.

Saya pertama kali konseling pada tanggal 13 Juli 2019 dan bertemu dengan psikolog Ibu Fath Fatheya. Sesi Konseling berlangsung dua jam. Sebetulnya saya hanya daftar untuk satu jam, namun karena belum selesai akhirnya diteruskan hingga dua jam. Hasil konseling pertama, saya merasa lebih lega. Mungkin karena bisa mengeluarkan unek-unek tanpa di nilai negatif. Ibu Fath juga sangat ramah dan mendengarkan saya dengan seksama. Tidak terlihat dari raut mukanya yang bosan dengan cerita saya. Setiap kalimat yang keluar dari mulut saya di dengarkannya baik-baik. Sesekali diselingi dengan bercanda dan tertawa. Selesai konseling, Ibu Fath membebaskan kepada saya untuk kembali melakukan konseling berikutnya atau cukup sampai disitu. Semua dikembalikan kepada kebutuhan saya. Saya memang sudah mulai mendapatkan pencerahan berdasarkan kesimpulan yang diberikan oleh Ibu Fath. Namun, saya merasa masih butuh untuk berbicara lebih lanjut. Selain itu, Ibu Fath juga meminta saya untuk menulis setiap hal yang menjadi beban pikiran. Apapun itu, berhubungan dengan kantor atau rumah, dsb. Tanpa harus fokus untuk masalah hamil dan anak.

Dikarenakan Ibu Fath ada jadwal keluar kota dan saya juga ada kegiatan di tiap weekend, maka jadwal berikutnya adalah 10 Agustus 2019. Sesi ke-2 ini kembali berlangsung selama dua jam. Wah tidak terasa memang kalau bicara dengan psikolog. Sesi ke-2, saya membawa "PR" yang diminta oleh Ibu Fath. Saya membawa tulisan mengenai perihal kejadian-kejadian dan waktu terjadinya yang membuat saya kepikiran. Disitu saya diminta untuk merefleksikan perasaan saya ketika mengalami hal itu. Bahkan diminta untuk mengingat-ingat apakah ada reaksi fisik yang terjadi. Misalnya deg-degan, tangan keringetan, atau bahkan mulas. Semua itu reaksi fisik yang mungkin terjadi ketika kita terlalu memikirkan sesuatu.

Sesi ke-2 memang lebih banyak membahas PR. Tapi disitu saya mendapat insight baru yang diluar dugaan. Ternyata saya selama ini seperti itu toh. Ternyata saya begini dan begitu. Ternyata kecemasan saya memang berlebihan padahal itu semua tidak terjadi, dst, dll. Selama proses ini, saya menikmati momen keterbukaan yang terjadi antara saya dan Ibu Fath. Merasa tidak berjarak dan tanpa ketakutan. Padahal dia seorang psikolog yang mungkin saja sudah mendengar masalah serupa dengan yang saya alami. Namun, Ibu Fath tidak terlihat merendahkan. Padahal diawal saya deg-degan ketika mau konseling dengan psikolog. Ada rasa takut jika hasilnya malah membuat saya semakin down.

Proses konseling ini terjadi bersamaan dengan saya yang tetap rutin melakukan yoga. Menurut Ibu Fath itu sangat bagus untuk mengontrol emosi dan pikiran saya. Beliau menyarankan untuk konseling sesi berikutnya akan dilakukan terapi untuk mengurangi rasa cemas saya. Namun, hingga saat ini saya tidak pernah datang lagi untuk konseling. Saya merasa cukup dengan konseling yang sudah dilakukan. Perihal terapi, saya rasa masih bisa nanti-nanti untuk dilakukan. Saya sedang fokus dengan yoga karena itu menyenangkan. Sedangkan, ada hal baru yang diluar dugaan saya namun menjadi jawaban dari setiap proses selama ini.

Apa hal baru tersebut? Next akan saya ceritakan lebih lanjut 😉

Refrensi:

https://pixabay.com/photos/hands-pregnant-woman-heart-love-2568594/

https://tigagenerasi.id/

Thursday, February 13, 2020

Perjalanan untuk Lepas dari PCO (Part 5) - Hasil Detox Nakedpress



Setelah berhasil melalui detox pertama, minggu berikutnya saya kembali melanjutkan detox. Detox kedua saya lakukan pada 24 Juni 2019. Nah, detox kali ini lebih mending dibandingkan yang pertama. Mungkin karena sudah pernah melalui, jadi detox ke-2 ini saya lebih siap dan merasa biasa. Walaupun efeknya tetap sama yaitu kembung dan ingin buang air kecil. Saya juga merasa lebih santai dan tidak terbebani.

Efek setelah dua kali detox adalah di hari berikutnya saya mulai terbiasa untuk makan sayur lebih banyak. Jadi saat makan yang di goreng, lidah berasa tidak enak. Bahkan pernah saya makan snack yang terlalu asin, besoknya tenggorokan menjadi tidak enak (Seperti mau radang). Padahal biasanya tidak pernah begitu. Ini efek tiap orang akan berbeda-beda, jadi tidak bisa disamakan antara saya dengan yang lain.

Minggu berikutnya kembali melanjutkan detox pada 9 Juli dan minggu setelahnya pada 16 Juli. Total saya melakukan detox empat kali dan berhenti tidak detox lagi. Empat kali detox membuat saya lebih menyukai sayuran dan buah ketimbang makanan di goreng. Keesokan setelah detox, tetap saya coba jaga makan, seperti nasi putih diganti nasi merah, mengurangi gorengan (karena di lidah juga merasa tidak enak), mulai banyakin porsi makan sayur, dst. Saya tetap rutin yoga, tiga kali dalam seminggu. Di weekend kadang masih olahraga seperti treadmill, walaupun tidak terlalu lama. Biasa sekitar 20-30 menit. Itu pun tidak rutin di tiap weekend. 

Pokoknya berusaha untuk memperbaiki pola hidup. Karena merasa kurang sayang dengan tubuh sendiri dan ingin berhenti minum obat hormon. Waktu itu cuma kepikiran ingin sehat, belum ada bayang-bayang untuk hamil. Semua coba di jalani perlahan dan lama kelamaan menjadi menyukainya. Saya mulai suka makan salad sayuran (biasanya tidak suka dan merasa kurang kenyang), porsi makan mulai berubah dan gampang kenyang, mulai terbiasa untuk olahraga dan merasa segar, tidur lebih nyenyak, dan pikiran lebih fresh. 

Mungkin karena semua pola mulai berubah lebih baik, akhirnya di tanggal 18 Juli 2019, saya keluar flek seperti mau menstruasi. Wah senangnya... Akhirnya bisa menstruasi dengan normal tanpa di pancing obat hormon. Namun, semua itu ternyata belum ada apa-apanya. Hingga tanggal 20 Juli 2019, hanya keluar flek saja dan tidak ada darah menstruasi seperti pada umumnya. Saya kembali sedih dan merasa bahwa mungkin emang harus tetap minum obat hormon. Akhirnya flek berhenti di tanggal 20 Juli. Keesokan harinya sudah bersih seperti biasa.

Saya bilang sama koko, bulan berikutnya coba untuk lihat apakah bisa menstruasi dengan normal atau tidak. Jika memang tidak bisa menstruasi dengan normal, ya sudah mungkin jalannya harus dengan obat dokter. Namun, tetap saya berusaha untuk menjaga pola makan, pikiran, maupun rutin yoga. Semata-mata demi menstruasi agar normal dan lancar.

Detox membantu saya untuk membiasakan diri makan makanan yang lebih banyak mengandung sayur dan buah. Namun tetap di tunjang juga dengan kebiasaan setelah detox dan mungkin juga di bantu oleh olahraga. Buat saya yoga itu sangat berpengaruh dan punya efek yang baik. Saya merasa rileks sehabis yoga dan tidur bisa lebih nyenyak. Sebetulnya, saya tidak punya masalah dengan tidur. Kadang cuma suka susah untuk langsung tidur. Tapi bila tidur biasanya jarang kebangun, kecuali ingin ke toilet. Sehabis yoga, perasaan baru rebahan eh kok tiba-tiba alarm jam bangun sudah bunyi. Biasanya abis rebahan saya masih suka mikir ini dan itu, sehabis yoga itu semua serasa tidak bisa dilakukan. Karena langsung ingin tidur dan pulas sampai pagi.

Hasil detox dan perubahan pola hidup di tiap orang akan berbeda-beda. Namun, tidak ada salahnya untuk mencoba agar tubuh dan pikiran menjadi lebih rileks. Intinya memang harus ada niat dan usaha. Sebab tanpa keduanya semua akan menjadi sia-sia.


Refrensi:

https://pixabay.com/photos/hands-pregnant-woman-heart-love-2568594/

Wednesday, February 12, 2020

Perjalanan untuk Lepas dari PCO (Part 4) - Detox dengan Nakedpress



Setelah berusaha untuk memperbaiki pola makan dan mulai rutin berolahraga (Baca: Perjalanan untuk Lepas dari PCO (Part 3)), saya mendapat informasi seputar detox dengan menggunakan jus. Sebetulnya saya udah lama memfollow akun instagram Nakedpress. Disitu memang dijelaskan produk yang mereka tawarkan, cara untuk mengkonsumsi, dan testimoni orang-orang yang berhasil lebih sehat. Jujur saya tergiur ketika membaca testimoni orang yang mengalami PCO/PCOS, namun siklus menstruasinya membaik ketika rutin melakukan detox.

Waktu itu mikirnya, tidak salah untuk coba di lakukan. Mulailah saya menghubungi admin Nakedpress via DM Instagram. Awalnya cuma sekedar tanya-tanya informasi sambil memantapkan diri untuk mencoba membeli produk tersebut. Semua informasi juga jelas dijabarkan di websitenya https://www.nakedpress.co/. Ketika kalian buka websitenya, ada menu blog. Nah kalian bisa klik dan membaca beragam testimoni konsumen Nakedpress yang sudah mencoba produk detox mereka. Disitu membuat saya semakin ingin untuk mencoba produk Nakedpress.

Disini Nakedpress merupakan produk jus yang terdiri dari buah dan sayur. Bukan obat medis yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Nakedpress menawarkan solusi untuk membuat saya semakin menyukai buah dan sayur. Saya suka makan buah dan sayur, namun bukan konsumsi rutin setiap hari. Nah, adanya produk Nakedpress membuat saya semakin membiasakan diri untuk makan buah dan sayur secara rutin. Tentunya ini mendukung niat saya untuk memperbaiki pola makan yang akan menunjang jika menjalani program hamil.

Jus detox ini terdiri dari delapan botol yang harus di minum dalam satu hari. Jeda minum botol pertama ke botol kedua, dst adalah satu hingga dua jam. Detox di lakukan satu kali dalam satu minggu. Dihari detox, kita hanya meminum jus produk mereka serta minum air putih dan tidak makan apapun. Jeng... jeng.. ini susah nih. Bayangkan saya biasa selalu makan setiap hari, kali ini dalam satu hari tidak makan apapun. Mana kenyang??? Langsung kepikiran bakalan lemas seharian dan kelaperan. Mana mau coba detox pas hari kerja, otomatis bisa ganggu kerjaan kalau lapar dan lemas.

Ngobrol sama orang kantor, kebetulan teman kantor juga ingin coba detox tersebut. Awalnya niat untuk sekalian mengurangi minum manis. Okelah karena kami sama-sama ingin mencoba untuk hidup lebih sehat, maka mulailah memesan paket detox. Saya memesan paket detox level 1 dan mulai detox pada 18 Juni 2019.

18 Juni 2019

Hari pertama detox. Wuooohh... jujur merasa sanggup apa tidak ya dalam satu hari tidak makan apapun selain minum jus dan air putih. Tapi ya namanya di coba kan tidak salah toh. Okelah karena tekad sudah bulat ingin sembuh dan tidak mau minum obat hormon, maka salah satu cara yang bisa dilakukan adalah ubah pola makan dan mulai hidup sehat. Mulai minum botol pertama sekitar jam 8an.

"Jangan dilihat warnanya yang hijau banget, tapi ingat manfaat yang didapatkan."

Oke, dengan mindset seperti itu, saya coba kuatkan hati untuk minum sampai habis. Awal-awal berasa aneh di lidah karena ini jus dengan campuran sayur dan buah. Meskipun pernah minum Rejuve, namun tetap aja merasa agak aneh. Setelah itu langsung buru-buru minum air putih.

Oke botol satu selesai. Kemudian di lanjutkan dengan botol berikutnya setiap satu sampai dua jam sekali. Sambil menguatkan satu sama lain dengan teman kantor yang juga detox. Kami berusaha untuk semangat walaupun rasanya mau udahan saja. Mengingat harganya yang juga tidak murah, maka coba terus dilanjutkan sampai tuntas.

Menjelang makan siang, di saat teman-teman lain mulai sibuk milih mau makan apa dan dimana, saya berusaha untuk fokus bahwa bisa melewati jam ini dengan baik. Masih ada botol yang harus di minum dan misi yang perlu di selesaikan. Mencoba untuk menghilangkan pikiran-pikiran ingin makan ini dan itu. Mencoba untuk tidak membuka media sosial, terutama yang berhubungan dengan makanan atau minuman lain. Semata-mata agar misi ini tuntas dan melewati hari dengan berhasil.

Apakah lapar?

Saya sih tidak begitu merasa lapar. Ajaib juga sih dan merasa kok bisa ya? Tapi emang tidak merasa lapar. Cuma merasa kembung karena kebanyakan minum dan ingin ke toilet mulu. Jusnya juga berasa padat banget sarinya, jadi bukan sekedar air doank. Nah, mungkin itu yang bikin jadi "kenyang" dengan sendirinya.

Sore pun yang biasanya saya ngemil, ini tidak ada hasrat pengen ngemil. Bawaannya kembung dan ingin buang air kecil. Cuma mulai merasa ingin mengunyah sesuatu. Bayangkan saja, biasanya ngunyah tiba-tiba hampir seharian tidak mengunyah apapun. Cuma masih bisa di lawan godaan tersebut dan mencoba tetap optimis bisa untuk dilalui.

Rasa-rasa jusnya pun beragam dan bisa dibilang masih dapat diterima oleh lidah. Walaupun ada yang berasa sayur banget tapi masih okelah untuk diminum. Toh ada campuran buah-buahan lain, contohnya lemon. Nah itu bikin seger dan enak.

Sampai malam berhasil untuk melalui satu per satu botol yang perlu di minum. Menjelang tidur merasa hebat banget sama diri sendiri. Bisa melalui hal ini dan  keluar dari zona nyaman. Alhasil bersyukur kepada Tuhan karena berani untuk memutuskan hal baru demi hidup lebih sehat. Saat itu tidak kepikiran untuk sembuh dari PCO dan menstruasi lancar. Belajar untuk terbiasa makan sayur dan buah terlebih dahulu. Langkah perlahan untuk hasil yang gemilang.

Detox pertama done!

Refrensi:

https://pixabay.com/photos/hands-pregnant-woman-heart-love-2568594/

Thursday, January 30, 2020

Perjalanan untuk Lepas dari PCO (Part 3)


Perjalanan belum usai, usaha masih terus dilakukan. Bisa di bilang bukan kejar target jadi harus segera hamil. Pertama, saya ingin untuk menanggulangi PCO yang ada. Jika sudah membaik, tentu proses dan persiapan untuk hamil menjadi lebih mudah. Setelah selesai minum obat hormon dari dr. Wenny (Kisahnya ada disini Perjalanan untuk Lepas dari PCO (Part 2)), beberapa hari kemudian memang langsung menstruasi dengan normal. Obat yang diberikan untuk dua bulan, sehingga bulan berikutnya saya kembali minum obat yang sama. Awalnya hanya ingin minum obat untuk satu bulan, namun karena sudah terlanjur dibeli dan ingin melihat efeknya, maka saya ikutin anjuran dokter.

Bulan April 2019 sehabis minum obat, saya bisa menstruasi dengan lancar. Kemudian obat sudah habis, jadi saya cuma bisa berharap di bulan Mei bisa menstruasi tanpa dipancing (minum obat hormon). Bulan Mei 2019 saya masuk kerja di kantor baru. Kebetulan semua proses kuliah sudah selesai dan wisuda juga dilaksanakan beberapa hari sebelum bekerja. Jadi, bulan Mei merupakan awal baru untuk di dunia perkantoran dengan gelar yang juga baru.

Jujur, saya nyaris lupa tanggal menstruasi yang terakhir. Sebetulnya saya pakai aplikasi kalender menstruasi yang di install ke handphone. Karena mulai kerja dan adaptasi dengan yang baru, akhirnya saya menjadi tidak cek perihal jadwal menstruasi. Akhir bulan Mei 2019, saya baru sadar bahwa belum ada tanda-tanda akan menstruasi. Saya juga tidak berniat untuk melakukan test kehamilan, karena hasilnya pasti sama saja negatif. Akhirnya saya cuma bilang ke koko kalau bulan itu tidak menstruasi. Koko mengajak untuk mencari dokter lain, sebagai alternatif dan perbandingan dari dua dokter yang sudah dikunjungi. Saya menolaknya dan tidak mau ke dokter.

Rasanya lelah untuk ke dokter dan meminum obat yang intinya sama, yaitu memperbaiki kadar hormon dalam tubuh. Oiya, saya lupa menceritakan efek sehabis minum obat hormon. Saya merasakan setelah minum obat, mulai muncul jerawat di muka, rambut rontok dalam jumlah banyak, nafsu makan meningkat sehingga saya merasa seperti "bengkak", mood yang super mudah berubah, dsb. Saya baca di internet ternyata disebutkan juga bahwa efeknya akan seperti itu. Nah, saya tidak mau untuk mengalaminya lagi karena cukup menyiksa diri sendiri.

Mulai kerja kantoran, bikin pikiran menjadi teralihkan sejenak dari kehamilan. Untungnya orang-orang di kantor tidak terlalu mempertanyakan saya yang belum hamil. Sehingga, pikiran seputar kehamilan bisa sedikit terlupakan. Saya juga jarang ketemu saudara yang biasanya menanyakan seputar kehamilan, jadi merasa aman dan nyaman untuk menikmati pekerjaan saat itu.

Memasuki bulan Juni, saya mulai sadar untuk memperhatikan siklus menstruasi. Mungkin memang sudah jalannya dan itu tanda yang diberikan kepada kami berdua. Di bulan Mei atau Juni awal, koko melakukan medical check up atas dasar kebijakan perusahannya. Hasilnya menunjukkan bahwa kolestrol dan gula darah berada di atas batas normal. Disitu ia merasa bahwa mungkin memang faktor dirinya lah yang menyebabkan saya belum hamil. Karena kolesterol dan gula darah yang tinggi, sehingga bisa mempengaruhi sperma. Ada satu momen yang membuatnya menyalahkan dirinya sendiri. Padahal saya juga mengalami PCO yang punya andil untuk belum mengalami kehamilan.

Momen hasil check up dan saya yang tidak mau minum obat hormon lagi, membuat kami berdua melakukan perubahan. Perubahan ini dalam pola makan dan olahraga. Ternyata memang tidak mudah, tapi kami berusaha sebab ada satu keputusan yang diambil perihal keinginan untuk punya anak. Kami memutuskan untuk memulai program hamil sejak tahun 2020. Di sisa tahun 2019, kami isi dengan olahraga, ubah pola makan, dan mencari refrensi dokter serta rumah sakit yang sesuai.

Kami pun berusaha untuk melepaskan dan membiarkan mengalir begitu saja. Sebab, kami berdua menyadari bahwa usaha selama ini terbilang masih minim. Saya pun mulai daftar mengikuti kelas yoga, sedangkan koko daftar gym. Tiga kali dalam seminggu kami berusaha untuk rutin berolahraga. Pola makan juga diubah, seperti saya menganti nasi putih dengan nasi merah, lebih banyak makan sayur hijau, dan buah-buahan. Perihal gorengan juga coba dikurangin dan lebih banyak makan yang di bakar atau kukus. Kebetulan saya memang kurang menyukai makanan dan minuman manis, jadi hal ini lebih mudah dilakukan.

Koko sendiri pencinta gorengan dan sangat susah untuk makan sayur dan buah. Karena dia juga tidak ingin ketergantungan obat, maka mulai mengurangi makan gorengan dan mencoba makan sayur. Awalnya buat dia cukup sulit. Bayangkan saja, jika makan mie ayam yang ada sayur sawi, ia suka memesan tanpa sayur. Nah, sekarang harus makan sayur dalam porsi yang lebih banyak daripada di mangkok mie ayam. Saya bersyukur tekad dia untuk sehat itu tinggi, sehingga pelan-pelan ia mampu untuk makan sayur dalam jumlah banyak. Dia juga pencinta minuman dan makanan manis, sekarang sudah bisa dikurangin. Biasanya minum es teh manis, sekarang hanya sekedar air putih saja. Sesekali masih minum dan makan manis, namun porsinya berkurang.

Inilah tahap awal kami dan terbilang masih jauh dari kata sukses. Tapi, kami berupaya dan berusaha untuk membuat perubahan dalam hidup. Sebab, kami menyadari jika nanti ingin melakukan program hamil, tentu dokter akan meminta untuk olahraga dan ubah pola makan. Maka dari itu, kami mulai mencicilnya perlahan. Masih suka tidak konsisten, namun tetap berusaha untuk berubah menjadi ke arah positif.


Refrensi:

https://pixabay.com/photos/hands-pregnant-woman-heart-love-2568594/

Wednesday, January 29, 2020

Perjalanan untuk Lepas dari PCO (Part 2)


Ternyata proses untuk lepas dari PCO tidak semudah habis minum obat hormon, maka langsung hilang. Setelah selesai minum obat hormon (kisah sebelumnya ada di Perjalanan untuk Lepas dari PCO (Part 1)), memang menstruasi kembali berjalan dengan normal. Saya pun berpikir bahwa mungkin pada saat itu memang karena faktor kelelahan dan kurangnya asupan makanan bergizi. Maka, perlu untuk mengubah pola makan dan berusaha mengurangi aktivitas yang melelahkan serta membuat stres.

Memasuki tahun 2019, gejala itu pun muncul kembali. Saya tidak menstruasi dan polanya sama seperti bulan Oktober 2018. Sebab ketika saya melakukan tes dengan testpack, hasilnya menunjukkan negatif. Saya tidak berpikir bahwa alat tersebut bermasalah. Masalah itu adanya di diri saya sendiri. Saya pun melakukan konsultasi ke dokter dan rumah sakit yang berbeda. Saya mengunjungi RS Mayapada Tangerang. Sebab, saya merasa perut bawah sebelah kiri juga nyeri. Sekalian cek apakah benar saya PCO atau ada penyebab lain.

Saya tetap mencari dokter perempuan, karena memang masih belum menemukan dokter kandungan yang cocok. Saya memilih dr. Wenny Ningsih Haryadi, SpOG. Pemilihan dokter juga karena kebetulan saja jadwalnya pas ketika saya mau konsul. Sama seperti ketika konsul dengan dr. Andriana di RS Bethsaida, saya di USG transvaginal (alat USG di masukkan melalui vagina). Sebab jika melakukan USG hanya di perut, tidak begitu terlihat jelas penyebabnya.

Hasilnya adalah sama dengan diagnosa dr. Andriana. Saya mengalami PCO dengan sel ovum yang cenderung kecil dan berukuran sama. Jujur, sudah tidak kaget ketika mendengar penjelasan dr. Wenny. Sebab, saya menyadari bisa saja ini memang karena PCO yang dialami dan belum hilang.



Terlihat dari hasil USG, ada bulatan hitam yang cenderung berukuran sama dan berdekatan satu sama lain. Nah, inilah yang menyebabkan siklus menstruasi menjadi tidak teratur. Potensi untuk hamil pun cenderung lebih sulit dibandingkan wanita lain yang memiliki sel ovum dengan ukuran besar.

Membahas mengenai dua dokter yang saya kunjungi, meskipun dengan diagnosa yang sama, saya merasa lebih nyaman dengan dr. Andriana. Sama-sama baru pertama kali ketemu, namun dr. Andriana bisa menjelaskan dengan lebih konkret tanpa terkesan menakut-nakuti. Buat saya yang termasuk orang pencemas dan sangat thinking, penjelasan dr. Andriana lebih bisa saya terima dibandingkan dr. Wenny. Sebab dr. Wenny cenderung minim penjelasan dan ketika di tanya hanya menjawab singkat-singkat dan to the point. 

Pemilihan dokter memang menjadi keputusan personal yang tiap orang akan berbeda. Perihal fasilitas rumah sakit, saya lebih menyukai RS Bethsaida ketimbang RS Mayapada. Memang harga di RS Bethsaida juga lebih mahal, namun kondisi rumah sakit dan fasilitas terlihat lebih modern dan bagus. Kembali ini tergantung keputusan personal masing-masing.

Berkaitan dengan PCO tersebut, saya mendapatkan obat hormon lagi. Saya informasikan ke dr. Wenny bahwa saya pernah minum obat hormon Cyclo-Progynova, sehingga saya diberikan obat yang lain. Saya lupa mencatat dan menyimpan bungkus kosong dari obat tersebut. Seingat saya ada dua macam obat. Obat pertama langsung diminum sampai habis. Sehari minum satu atau dua kali sehabis makan. Kemudian obat satu lagi di minum setelah menstruasi hari ke-3 dan terus minum sampai obat habis.

Hasilnya, kembali saya bisa menstruasi dengan normal seperti biasa. Namun, tentu ini tidak bisa terus menerus dibiarkan. Sebab, saya menjadi ketergantungan dengan obat hormon. Jika tidak minum, maka bisa saja saya tidak mengalami menstruasi dengan normal seperti wanita pada umumnya. Saran dr. Wenny sama dengan dr. Andriana, yaitu ubah pola makan, rutin berolahraga, dan kelola stres. Sebab perlu untuk menanggulangi PCO yang saya alami, agar bisa hamil seperti wanita lainnya. Jika PCO tidak teratasi, maka peluang untuk hamil pun semakin berkurang.


Refrensi:

https://pixabay.com/photos/hands-pregnant-woman-heart-love-2568594/


Foto USG : Dokumentasi Pribadi

Perjalanan untuk Lepas dari PCO (Part 1)


Pertanyaan tak kunjung usai setelah menikah adalah sudah isi belum? Sudah hamil belum?

Intinya mempertanyakan apakah kami sudah punya anak atau belum. Badan gendutan sedikit dan perut agak buncit, dibilang lagi hamil. Padahal memang dasar saya lagi makan banyak dan bikin berat badan naik. Sehingga, fisik juga ikut terlihat gemuk. Itu semua bukan karena hamil. Beragam komentar pun muncul seiring dengan satu tahun pernikahan kami dan belum ada tanda-tanda kehamilan. Jujur, buat saya itu semakin membebani karena terus dipertanyakan dan diberikan nasehat ini dan itu agar cepat hamil.

Please, hamil itu bukan semata-mata karena sudah menikah jadi harus segera punya keturunan. Ada beragam faktor dari A sampai Z yang mendukung keputusan dan pilihan ketika kehadiran anak itu tiba. Kebanyakan orang memberikan saran agar sering makan tauge, lalu jangan terlalu capek dan stres, dst. Memang ada faktor-faktor yang turut serta mempengaruhi kondisi fisik dan mental untuk bisa hamil. Namun, terpenting tidak bisa melupakan jalan dari Tuhan untuk kami.

Disini saya akan menceritakan awal mula perjalanan kami yang mungkin terbilang ajaib untuk bisa mendapatkan keturunan. Tiga bulan setelah menikah  (bulan Oktober 2018), saya telat menstruasi. Disitu saya mulai mencari alat tespack untuk cek apakah ini karena hamil atau memang siklus sedang berantakan (saat itu sedang sibuk kuliah, menjelang ujian, dan membuat proposal tesis). Ternyata hasil tes menunjukkan negatif. Oke, berarti ada yang salah dengan tubuh saya. Memang saya memiliki siklus menstruasi yang cukup tidak teratur. Mulai dari sebelum menikah namun durasinya tidak begitu lama. Sempat cek ke dokter kandungan dan dibilang karena faktor stres. Namun, jika sudah menikah tentu perlu dilakukan pengecekkan lebih lanjut.

Selanjutnya saya melakukan pemeriksaan ke RS Bethsaida, Gading Serpong. Saya memilih dokter wanita, sebab ini merupakan pemeriksaan awal. Kebetulan saya juga pergi sendiri dan memang sengaja tidak mau ditemani koko. Saya memilih dr. Andriana Kumala Dewi, Sp.OG. Singkatnya setelah konsultasi dan USG, ternyata ditemukan bahwa sel ovum saya memiliki ukuran yang kecil-kecil dan dalam jumlah banyak. Hal ini biasa di sebut dengan PCO (Polycystic Ovaries).



Foto di atas merupakan dokumentasi pribadi hasil USG saya. Terlihat ada bulatan berwarna hitam yang cenderung berukuran sama dan berjarak dekat satu sama lain. Bulatan berwarna hitam itu adalah sel ovum yang saya miliki. Idealnya, ukuran sel ovum ada yang besar maupun kecil, sedangkan yang saya punya berukuran nyaris sama semua.

PCO adalah kondisi yang menunjukkan bahwa sel telur berukuran kecil-kecil dan dalam jumlah banyak (https://www.popmama.com). PCO ini berbeda dengan PCOS. PCOS (Polycystic Ovary Sindrome) adalah kondisi metabolisme hormonal yang membuat ovarium terdiri dari folikel yang besar dan abnormal (https://www.popmama.com). PCOS terbilang lebih berbahaya dibandingkan PCO, sebab untuk diagnosa PCOS ditegakkan berdasarkan hasil tes hormon yang sudah di lakukan.

Umumnya ciri-ciri yang terlihat adalah siklus menstruasi yang tidak teratur, tumbuh jerawat, berat badan meningkat. Namun butuh pengecekkan lebih lanjut untuk bisa mengetahui apakah mengalami PCO atau PCOS. Sebab siklus menstruasi yang tidak teratur bisa juga dipengaruhi karena kelelahan, stres, pola makan yang tidak teratur, dll. Umumnya kita sebagai wanita tidak bisa mendiagnosa diri sendiri tanpa bukti-bukti secara medis.

Setelah didiagnosa mengalami PCO oleh dr. Andriana, beliau memberikan obat hormon untuk memancing keluarnya menstruasi. Sehingga siklus menstruasi saya bisa kembali lancar. Obat yang diberikan bernama Cyclo-Progynova. Obat ini terdiri dari 21 kapsul yang harus diminum setiap hari. Di belakang dus obat juga ada nomor dari satu sampai 21 dan diberikan sticker untuk kita bisa menempel hari pertama minum sampai hari terakhir minum obat. Saya diberikan dua dus obat tersebut, sehingga harus minum selama 2 bulan. Obat ini memang dijual bebas di apotek-apotek, bahkan di Century pun ada. Namun, tetap berdasarkan resep dari dokter ya.

dr. Andriana pun mengatakan bahwa saya masih bisa hamil alami. Artinya obat hormon yang diberikan hanya membantu untuk melancarkan siklus menstruasi. Setelah itu, baru bisa dihitung masa subur dengan mudah. Karena saat itu saya baru menikah tiga bulan, jadi masih terlampau dini untuk diberikan obat demi bisa hamil. Beliau mengatakan bahwa ada obat yang bisa berfungsi untuk memperbesar sel ovum. Saat itu saya belum terpikirkan untuk meminumnya karena masih percaya bisa hamil dengan cara alami.

Setelah selesai minum obat ini, saya memang bisa menstruasi dengan normal (durasi 5 hari dan volume mens juga wajar seperti biasa). Bulan-bulan berikutnya juga bisa menstruasi dengan normal, sehingga siklus sudah kembali seperti semula. Namun, bukan serta-merta PCO tersebut hilang. Saya tetap harus mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi, serta rutin berolahraga.




Refrensi:
https://www.popmama.com/pregnancy/getting-pregnant/annas/apa-perbedaan-pco-dan-pcos/full

https://pixabay.com/photos/hands-pregnant-woman-heart-love-2568594/

Foto USG : Dokumentasi Pribadi

Tuesday, October 22, 2019

Waktu Mengubah Segalanya





Menulis bukan semata-mata mengalirkan kata demi kata menjadi tulisan. Butuh niat dan kerelaan untuk bisa terlibat dalam setiap kalimat yang ada. Akhir-akhir ini, saya berada dalam fase ingin menulis, namun enggan menyalurkannya. Banyak ide yang ingin dituangkan, banyak hal yang ingin dibagikan, namun semua hanyalah anggan tanpa pernah menjadi karya. Hari ini mencoba untuk kembali menuangkan apa yang sudah ada di kepala. Mendesak untuk menjadi kumpulan kalimat yang semoga bermakna.

Tiga bulan belakangan ini menjadi waktu yang membuat kehidupan saya berubah. Ternyata perubahan itu memang bisa datang di saat yang tidak di duga. Semua perubahan yang terbilang cepat dan mengagetkan, membuat saya belajar untuk mencerna secara perlahan. Karena ini akan membawa perubahan, bukan hanya ke diri sendiri, suami, hubungan kami sebagai suami dan istri, namun bisa berdampak untuk keluarga besar.

Saya menyadari bahwa diri ini terlalu mencemaskan segala sesuatu yang terbilang jauh dari kata kenyataan. Saya juga tidak tahu kapan hal tersebut terjadi atau hanya berupa pikiran saja. Cukup menganggu segala pikiran yang belum tentu menjadi kenyataan. Perlahan saya sadar, bahwa apa yang terjadi dalam tiga bulan ini mengajarkan untuk percaya dan menerima. Berusaha namun jika tidak percaya tentu akan sia-sia. Menerima namun tidak bersyukur, maka akan menjadi percuma.

Ketika saya merasa bahwa perlu melakukan sesuatu, hal tak terduga datang di waktu yang tidak disangka. Kaget sudah pasti. Merasa tidak siap, jelas itu dirasakan sejak awal. Namun, sudah menjadi kenyataan dan perlu untuk dilalui. Saya dan koko pun berusaha untuk bersyukur atas kejadian ini. Sebab ini menjadi titik balik bagi kami berdua untuk terus bekerja sama dan semakin mengetatkan gandengan tangan. Sehingga, mampu menjadi satu kelompok yang solid untuk kedepannya.

Saya sadar, rasa ini sungguh membuncah. Kebahagiaan, ketakutan, kaget, dll semua menjadi hal yang dirasakan. Menikmati sekali momen ini dan berusaha untuk ingat tetap bersyukur dan bersyukur. Sungguh berterima kasih atas momen ini dan semoga bisa untuk menjalani dengan penuh rasa syukur.


Sumber gambar: pixabay.com/pexels.

Perjalanan untuk Lepas dari PCO (Part 6) - Ke Psikolog

Perjalanan untuk lepas dari PCO ini memang terbilang tidak mudah. Namun, saya menyadari bahwa ini masih bisa untuk diteruskan. Jika berka...